Love this one =)
January 27, 2009
Muslim Bosnia
Suatu hari, gw pernah melontarkan pertanyaan bodoh ke nyokap gw. “Ma, koq bisa ya di Bosnia mayoritasnya muslim? Padahal secara fisik, mereka kan bule-bule gitu, biasanya Kristen.”
Nyokap gw dengan enteng menjawab, “Ya kan penyebaran Islam sampe ke situ, jamannya Turki Usmani. Islam kan sampe ke Eropa. Coba tuh Imam Bukhari, kan dari Bukhara.”
Oiyah. Bener juga. Bodoh saya.
Tiba-tiba gw kepikiran itu abis banyak ngobrol sama temen baru gw, lewat fesbuk seperti biasa. Namanya Edina Karaman, orang Bosnia asli, dan sekarang tinggal di Sarajevo. Dia ini termasuk muslim Bosnia yang selamat dari perang antaretnis yang pecah antara tahun 1992-1995. Nah, waktu SMP gw pernah baca buku diary Zlata Filipović. Dia ini survivor perang Bosnia juga. Uniknya, ternyata dia dulu tetangganya Edina.

Zlata Filipović
Edina cerita sedikit tentang Zlata Filipović ini. Ternyata, setelah 4 bulan perang pecah, dia sekeluarga berhasil keluar dari Bosnia. Jadi, bisa dibilang, Zlata bukan survivor sejati kayak muslim Bosnia yang menetap di negaranya selama perang karena dia “cuma” ngerasain 4 bulan dari 3 tahun peperangan.

Sarajevo, kota yang paling menderita selama perang antaretnis tahun 1992-1995
Gw iseng nanya sama Edina tentang agamanya Zlata sekeluarga, soalnya di bukunya itu gak jelas apakah Islam apa Kristen. Gak ada cerita dia ato anggota keluarganya solat (seinget gw yah). Kalo sebangsa nyebut nama Allah pernah sih, tapi ada cerita natal juga. Ah gw binun, makanya gw nanya. Edina bilang, keluarga Zlata itu cuma “Islam KTP”, ngerti kan? Dan ada banyak muslim Bosnia yang kayak gituh. Oh wow, mirip abis sama Indonesia! Hohoo…
Yah, pokoknya intinya dari situ kita mulai diskusi kecil tentang Islam. Dari situ juga, gw mulai kepikiran pertanyaan bodoh gw tadi. Gw pun merenung sendiri, nyari tau kenapa gw bisa mikir begitu, dan akhirnya gw nemuin alasannya.
Simpel ajah. Semoga gw bisa jelasin dengan baik, karena gw sering nemuin kesulitan nyari kata-kata yang bagus kalo cerita. =P
Islam kan turun dan berkembang pertama kali di dunia Arab. Kalo mayoritas orang Arab agamanya Islam, wajar. Waktu sekolah kita belajar sejarah gimana prosesnya Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan cerita ini ibaratnya udah “mendarah daging” banget buat gw. Gw pun gak mempertanyakan lagi kenapa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, padahal isinya bukan orang Arab. Melayu gitu loh!

Peta persebaran agama di Indonesia
Nah, mungkin ya, mungkin, karena gw udah terbiasa dengan mayoritas penduduk Indonesia yang muslim ini, gw sampe “lupa” kalo Islam gak cuma ada di Indonesia aja. Istilahnya, karena gw udah “biasa” dengan keadaan tadi, gw hampir “menganggap” kalo dunia Arab dan di Indonesia tuh “mirip”, sama-sama dunia dengan budaya Islamnya yang kental. Akibatnya, gw ngerasa “aneh” ngeliat bule-bule di Bosnia sana yang mayoritasnya Islam. Waduh? Bingung? Sama!

City of Pocitelj, Bosnia. Salah satu mesjid di Bosnia
Nah, coba sekarang keadaannya dibalik. Ada seorang muslim di Bosnia sana, yang agak bodoh kayak gw, yang mempertanyakan kenapa di negara Indonesia sana, yang secara geografis ada di tenggara Asia, yang mayoritas penduduknya etnis melayu, bisa menjadi negara muslim terbesar di dunia. Ngerti kan? Kalo dia sampe mempertanyakan itu, mungkin dia punya pikiran yang mirip sama gw. Dia udah “biasa” juga dengan lingkungan islaminya, “biasa” menjadi bagian dari kebanyakan penduduk muslim lainnya di negaranya, sampe “lupa” kalo Islam ada di seluruh dunia.
Ah, padahal kan kalo narik garis di peta udah keliatan, jarak Arab ke Indonesia lebih jauh dari jarak Arab ke Bosnia, banyak ngelintasin samudera pula! Jadi, orang Bosnia yang lebih berhak mempertanyakan hal ini, bukan gw. Hehe…
(Jadi, intinya apa? Yasudalah, gak usah dipikirin daripada pusing.)
Saya Kualat!!!
Ehm…gw bilang kan di post sebelumnya kalo gw minum tramadol (yang didapat tanpa resep dokter) gara-gara sakit gigi.
Yayayaa… SAYA KUALAT! Huhuhuu…
Ahem…ceritanya kan gw baru minum pas sabtu pagi, waktu mo berangkat seminar apoteker deket Tamini Square. Pagi itu sampe menjelang siang gw gak ngerasain ada yang aneh, justru sakit gigi gw yang bersangsur-angsur ilang. Tapi begitu abis makan siang, gw uda mulai ngerasa ada yang gak beres sama kepala gw.
Alhamdulillah sampe acara selesai sakit kepala masih taraf ringan. Nah, pas perjalanan pulang ke rumah nih mulai berasa efeknya. Selain sakit kepala yang mulai hebat, perut gw juga mual banget, hampir aja muntah kalo gw gak inget gw lagi di dalem mobil. Huueekkss… Sampe sore itu, ceritanya gw udah nelen 3 kapsul laknat itu. Wuuiihh…
Gw kira itu cuma pusing-pusing biasa, mual biasa, namanya juga efek samping obat. Yah, meskipun sebelumnya gw sama sekali gak pernah punya pengalaman buruk sama analgesik opioid itu. Analgesik opioid? Ow hell yeah! Biasa dikonsumsi buat nahan sakit sama orang-orang yang abis operasi. Trus gw minum? Haha…begitulah…
Yang jelas malem minggu gw kali itu sangat menyedihkan (emang biasanya happy? hehee..). Gak bisa nonton tipi, gak bisa maen fesbuk, gak bisa maen ama abang Coki. Jangankan buat jalan, duduk aja gw gak kuat! Huhu…kalo duduk, sakit kepala gila-gilaan itu muncul lagi plus berasa mau muntah. Walhasil, gak lama azan magrib gw terpaksa tidur sampe pagi.
Bangun tidur di hari Minggu yang cerah, gw kira penderitaan sudah berakhir. Aah…asiknya mo nonton Doraemon! Ternyata oh ternyata, sakit kepala itu makin menusuk sajah! Huweee… Oiyah, tetep masi mau muntah juga. Alhamdulillah, abis sarapan sakitnya udah lumayan ilang. Thank God!
Siangnya gw uda lumayan bisa duduk enak meskipun masih agak mual. Pas maen internet, gw sempet ceting sama temennya mama, dokter gigi dari India. Secara gw masang status di YM yang berhubungan sama penderitaan gw akan efek samping obat, dia nyapa dan nanyain penyakit gw.
Gw cerita sama dia, “I’m suffering from tramadol’s side effects.” Dia heran dan nanyain emang gw sakit apa sampe harus minum tramadol. Sakit gigi. Yeah, sakit gigi. Dia pun langsung ngomel, “Dokter gigi idiot mana yang ngasih kamu tramadol?!” Haha…belom tau dia! I got it illegally, Sir! LOL. Gw cuma ceritain ke dia kalo gw alergi sama macem-macem analgesik, termasuk obat sakit kepala.
Tentang alergi gw sama beberapa jenis obat, dia nyaranin gw tes defisiensi glukosa-6-PD. Hmh…berhubung nilai biokim gw gak bagus, hehe…jadi gw gak ngerti kaitannya apa sama masalah gw. Yang jelas, dia bilang dari hasil tes itu dokter bisa tau dan nyaranin obat-obat apa yang boleh atau gak boleh gw minum.
Si pak dokter itu juga berpesan, “Stay away from that drug!” Hahaa…oke deh pak, kayaknya saya juga udah muak. (Aah…padahal masih sisa 7 kapsul)
Okay tramadol, I just had enough with you. Bye bye! =P
January 19, 2009
Ideal is not always practical
On Friday, I got a toothache (which lasted until Sunday, actually). OUCH! Not really bad, though, but to prevent from the worst, I went to Kimia Farma Drug Store with my father to get some medicine. As I’m allergic to many kinds of analgesics, I should be very careful to choose the suitable one for me, unless my eyes would puff up quite badly. Oh, I’m serious!
So far, the only analgesic which is not causing any allergy to me is tramadol (Tramal®).

The clerk then asked my prescription but surely, I didn’t have it. So, she told me they couldn’t give it to me. Yeah, great! Absolutely I understood why they didn’t want to give tramadol to me – I’m studying pharmacy now. LOL.
Ideally, any drug with a special mark on its package (see below)- red circle, black border line, black “K” letter – should be given with doctor’s prescription only. This is not a standard rule, though, it’s valid in Indonesia only. In the United States, the term “prescription drug” is most commonly used, but they are also called Rx-only drugs or legend drugs, while in the United Kingdom, it is referred to as Prescription Only Medicine or POM.
It’s a violation to the national law about drug regulatory authorities if a drug store – or even a pharmacist – gives this drug to a patient who doesn’t have any recommendation from his doctor. Yet, that’s what I did! Hehe… (ah, shame on me!)
Hey, don’t get me wrong! I was worried about the pain, which usually could develop fast and severely. Don’t you think it would be a lil’bit complicated if I should see a doctor first and pay him for a sheet of prescription, while it’s even hard for me to think because of that smarting ache? Okay, maybe I shouldn’t seek any justifications for what I’ve committed, but that was an urgent situation.
Perhaps, curious with my purpose about that drug, the clerk asked me again, “You’d use tramadol for what?” I answered, “Toothache.” “Why tramadol?” “Well, I’m allergic to the other analgesics, like Ponstan, mefenamic acid,” I replied. “Ooh… allergy…” she mumbled.
Afterwards, as I had guessed, she agreed to give me my lovely tramadol. Oh yeah! Then, she convinced that I knew how to take the medecine, you know, the dosage, when to take it, etc. I said, I knew it – whereas, I searched on Google about the dosage of tramadol since I totally forgot it, haha…
See, ideal is not always practical. =P
(I wonder what my lecturer would say if she reads all this crap, haha…)
January 15, 2009
Objective Journalism
Perang yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina, memang memilukan. Pasukan Israel yang mengklaim hanya menargetkan para militan HAMAS nyatanya sampai hari ini menyebabkan terbunuhnya lebih dari 330 anak-anak Palestina. Sekolah yang dikontrol PBB, mesjid, sarana olahraga, bahkan kompleks kuburan juga tidak luput dari serangan jet-jet tempur Israel.
Bagi para wartawan, konflik Israel-HAMAS ini memang menjadi sumber berita yang tidak ada habis-habisnya. Mereka pun berlomba-lomba menyajikan berita-berita terbaru seputar perang yang sedang berlangsung. Sayangnya, hanya sedikit wartawan, terutama dari media internasional, yang memiliki kesempatan meliput langsung dari wilayah konflik, karena blokade israel yang melarang masuknya para wartawan asing, termasuk wartawan media Israel sendiri.
Al Jazeera, jaringan media yang berbasis di Qatar ini merupakan salah satu jaringan media yang memiliki kesempatan langka meliput langsung dari Jalur Gaza. Selama peperangan ini pula popularitas mereka meningkat tajam di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat yang melarang saluran TV ini ada dalam daftar saluran TV kabel di seluruh penjuru negeri.
Al Jazeera dinilai banyak pihak, termasuk pakar media barat dan Israel sendiri, menyajikan berita yang sangat berani, objektif, dan tidak ditutup-tutupi. Ketika media Amerika dan Eropa dituding tidak memberitakan kebenaran yang sebenarnya terjadi di lapangan, ditambah lagi larangan peliputan oleh Israel, serta tuduhan terhadap beberapa media besar yang dikuasai kaum Yahudi memutarbalikkan fakta, Al Jazeera membuktikan bahwa mereka dapat memberikan apa yang disebut “balanced-coverage“.
Sejak perang di Gaza pecah pada tanggal 27 Desember 2008 lalu, saya mengikuti seluruh berita yang disiarkan oleh Al Jazeera International, atau yang dikenal juga dengan Al Jazeera English (AJE). Melalui dua korespondennya dari Gaza, Ayman Mohyeldin dan Sherine Tadros, AJE memberitakan apa yang mungkin tidak diinginkan Israel untuk diketahui masyarakat dunia.

Al Jazeera English
Hampir tiga minggu ini saya hanya menyaksikan AJE agar selalu update tentang kabar terbaru dari Gaza. Bisa dibilang, saya sudah “terbiasa” mendengar liputan langsung dari para korespondennya yang dapat memberikan laporan dengan tenang walaupun berada dalam tekanan dan ketakutan terhadap bom yang dapat dijatuhkan dimana pun dan kapan pun. Bahkan, ketika protes massal yang dilakukan di seluruh dunia menyebut serangan Israel di Gaza tak ubahnya upaya genosida, praktek apartheid, atau “Holocaust”, mereka tidak pernah benar-benar menggunakan istilah-istilah tersebut, karena belum terbukti sah secara hukum internasional.
Kebetulan kemarin saya sempat menonton siaran berita mengenai kabar dari Gaza di SCTV. Rupanya reporter SCTV sudah mendapat kesempatan meliput dari perbatasan Mesir-Gaza sehingga dapat melihat langsung bom-bom yang dijatuhkan tentara Israel di kota Gaza. Dengan segala hormat, saya harus mengatakan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh reporter SCTV itu berlebihan, terlalu excited, seperti halnya para komentator sepakbola. Nada bicaranya tinggi ketika melihat sebuah bom dijatuhkan sembari mengatakan, “…entah berapa lama lagi agresi militer Israel ini akan berlangsung…”
Mungkin bukan SCTV saja, bisa jadi media-media massa di Indonesia, baik media cetak dan elektronik, juga sering menggunakan penggambaran yang bersifat terlalu subjektif, tentu saja untuk mengutuk agresi militer Israel di tanah Palestina. Beberapa kali saya juga menyaksikan saluran TV One yang me-relay saluran Al Jazeera Arabic. Dengan mengundang seorang penerjemah sekaligus narasumber, tak jarang kata-kata seperti “Kebiadaban Israel”, “Zionis Israel”, atau “Israel memang berniat menyerang rakyat sipil” meluncur, baik dari mulut sang penerjemah maupun para presenter beritanya.
Indonesia memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia memang memiliki ikatan yang kuat dengan Palestina. Indonesia memang selalu mendukung rakyat Palestina dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, dalam hal menyampaikan berita yang jujur dan tidak bias, menggunakan deskripsi berlebihan sangat tidak baik diterapkan.

Serangan Israel di Jalur Gaza
Mungkin para jurnalis kita dapat belajar dari para kru Al Jazeera. Meskipun berbasis di kawasan timur tengah yang penduduknya mayoritas muslim, meskipun mereka meliput langsung dari jantung kota Gaza, mereka tetap dapat menunjukkan profesionalisme dalam porsi pemberitaannya. Dengan memiliki koresponden, baik di Gaza maupun Sderot (wilayah selatan Israel yang sering menjadi sasaran roket HAMAS), mereka berusaha menayangkan liputan yang objektif dari kedua belah pihak. Tak jarang pula mereka mengundang jubir perdana menteri Israel, Mark Regev, dan jubir militer Israel, Avital Leibovich, untuk membahas perkembangan perang yang terjadi.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, kedua orang reporter AJE di Gaza ini memang layak diacungi jempol. Sikap mereka yang tenang dan tidak berapi-api dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pembaca berita di studio, melihat kenyataan pesawat dan helikopter Israel terbang di atas kepala dan menjatuhkan bom di kejauhan, benar-benar menunjukkan bagaimana seharusnya jurnalisme yang profesional diterapkan.
Bukan maksud saya untuk menghalangi kebebasan berpendapat apalagi sampai mendukung agresi Israel, hanya saja dalam penyampaian berita apa pun, meski telah jelas terlihat kejahatan di depan mata, para jurnalis sebaiknya menyampaikan hal yang terjadi apa adanya dan menghindari adanya provokasi untuk mendukung atau membenci salah satu pihak. Biarkan pemirsa yang menilai melalui sudut pandangnya masing-masing.
Saya memang bukan pakar media massa, apalagi pernah mengeyam pendidikan di bidang jurnalistik. Saya hanya seorang anggota masyarakat yang berpendapat bahwa sebaiknya media massa tidak berusaha membentuk opini publik melalui sudut pandangnya karena kurang relevan dengan kebebasan berpikir dan mengekspresikan opini yang dilindungi di negara ini.
January 14, 2009
The Amazing Al Jazeera’s Ayman Mohyeldin
Everybody across the world knows that there is an ongoing war now happening on the Gaza Strip, Palestine. It is Al Jazeera English, the only international broadcaster in Gaza, which has been continuously reporting from the heart of Gaza City since the battle began on 27 December 2008.
Al Jazeera English, which is banned to carry out its broadcasting in the United States, constantly gives us the extended coverages from their field correspondents in Gaza: Ayman Mohyeldin and Sherine Tadros – 2 brilliant reporters who have been in the Gaza Strip before the war was started.

Ayman Mohyeldin
Yet, the star of the coverage is probably the young Egyptian-American producer-turned-correspondent Ayman Mohyeldin, a veteran of both NBC and CNN who appears on the channel day and night. Ayman’s (oh yeah, I love to say his first name) professional reporting as well as his grace-under-fire attitude is sure to make such a positive affect on people.Gideon Levy, senior Israeli journalist, even described him as the cherry on top of this journalistic cream.
Since the first time I saw his live coverage from Gaza, wearing helmet, protective vest, and sometimes a Lacoste jacket, I was interested, nope, amazed by his incredible reports, speaking eloquently, remaining calm even when the bomb blasts, and his lovely accent as well, especially when mentioning names of the cities: Beit Hanoun, Beit Lahiya, Jabaliyah, Khan Younis, etc.
Just like Gideon Levy wrote on Haaretz: “…he stands on the roof, broadcasting in the most restrained tones, never getting excited or using flowery adjectives to describe what we’re inflicting on Gaza, even when planes fly over him and bomb a house in the distance. Sometimes he crouches during a blast, his eyes perpetually glazed from fatigue, his face sometimes betraying helplessness.”
Ow yea, he’s the greatest correspondent and journalist I’ve ever seen!!!
However, I don’t just admire him for his incredible works. Frankly, it’s hypocritical for me not to admit his gorgeous look, hahaa…
Well, this opinion doesn’t belong to myself alone. Search his fan page on Facebook and you’ll find dozens of ladies saying “He’s the cutest reporter ever!”
Recently, my friend, Ventry, and I became his fans on Facebook. There, we met at least 2 girls, pretty much crazy about Ayman’s performance too, and ended chatting about how cool he was on his photo comment space. It was silly, I knew. Such a silly thing to do. It’s like telling the world how stupid these girls are, having some rubbish chit chat like “He’s addictive!”, “He’s such a hottie!”, “I wanna marry him!” – things like that.
Unfortunately, our amusement was annoyed by a wall post from a girl, likely a relative of Ayman Mohyeldin, telling that “conversation” on the photo comment space was ridiculous! OUCH!
I know that was a crap, but oh please, she didn’t suppose to be so hard to us. However, I finally made 3 series of comments to “clarify” that our talks previously were not only because we admire the way he looks. Ayman Mohyeldin has touched our heart by facing his fear from this war since he realizes that he has a huge obligation to make sure that the entire world knows what really happens in Gaza. So, we stopped commenting after that.
Yesterday, some photos had been added to the page. Yaaayyy!!! Latest photo of Ayman Mohyeldin!!! Ventry and I couldn’t help those photos remained without any comments, even my friend, Edina from Bosnia thought the same too. So, here we go again.
She came again, asked us to stop that… How agressive! (according to Edina). I was upset. This time, I asked Ventry to write that “clarification” thing. The girl responded privately to Ventry – by message. She explained why she acted like that. I nearly believed what she said until Ventry pointed out something about her – something unpleasant – something made me wanna break her leg. Oops… sorry! We didn’t believe you, girl!
(About the content of the message and the “fact” Ventry found out, with all due respect, I couldn’t write it here.)
Yet, we decided to stop and continue our chats through “wall to wall”, hahaa…
Ah Mr Mohyeldin, you’re truly our WAR HERO! Hope God will always be with him – as well as Sherine Tadros! She’s the woman of the year! Yea, go girl power! May Allah protect the rest of Al Jazeera crews too, and of course, all the Gazans and Palestinians who have suffered too much in their own motherland.

Ayman Mohyeldin (right) - Reporting live from Gaza
Go Ayman Mohyeldin!
Go Sherine Tadros!
Stay safe. Stay healthy. Stay reporting.
AL JAZEERA ALL THE WAY!!!
Le retour de Princesse Mimie
Good Lord! I’ve not been writing here for months I guess. This is because of – no other than – my BORLAZ SYNDROME. No, it’s not even a new virus-caused-disease, it stands for Bored and Lazy Syndrome. To me that abbreviation sounds cooler than its meaning, so better use that to tell how lazy and easily-bored I am as a humanbeing.
Oh now I don’t know from where I should start telling all I’ve been through during this (dire) semester. Dire? Ow yeah! My GPA (again) dropped as I was too much wasting my time for doing nothing than studying for my exams. Even, it dropped drastically, compared to my 1st semester one. Hahaa… I think Mr Hayun, my counselor, would end up grumbling at me again. Sooo sorry Siiiiirr!!!

Lazy me
So, yeah, I don’t wanna think about my last scores, whatsoever, as long as I have passed all those subjects, yet, I failed 1 subject! Hahaaa… And unfortunately, sooo unfortunately, it was Mr Harmita’s Physicochemical Analysis. Oh poor me! I’m sure he would be shouting “Hey, monkey!” at me next year… T_T
Ah, never mind. While I’m in a (pretty) long holiday, I’ll write something beneficial here for the next posts. Actually, this post is just intended to say that I’ll continue writing (in English, insyaAllah) and, you see, nothing can be seen as a useful info whatsoever, hehe…
See y’all on the next stories!

*Udah ah, makin meracau aja neh gw! Cuih!*
October 5, 2008
Anggep aja gw penggemar sinetron Indonesia!
(Ehm… lagi-lagi 1 postingan gak penting. Kalo sibuk, gak usah sok-sok mo baca deh, daripada nyesel buang-buang waktu! Hehe..)
OK. Gw emang bukan pecinta sinetron indonesia jaman sekarang.
Gak kreatip. Gak realistis. Terlalu instan.
Ah ribet dah kalo ngomongin jeleknya sinetron Indonesia. Perlu 1 post sendiri kayaknyah. That’s not the main topic for now.
Semua juga tau kalo sinetron jaman sekarang kebanyakan cuma jual tampang. No objection. For some reasons, hal ini gak baik karena punya kontribusi terhadap turunnya mutu sinetron Indonesia. Tapi untuk alasan lain, terutama dari sudut pandang pemirsa wanita, ini justru keuntungan! Hyehehe…
(one…two…three… inti ketidakpentingan postingan ini pun dimulai!)
Yang gw pengen omongin sekarang adalah mega sinetron terbaru di RCTI: YASMIN!
Well, kalo diliat dari jalan ceritanya sih gak usah ditanya: mengerikan! haha… cek aja di sini! Belom lagi sontreknya yang aduhai..
Kuakui ku sangat, sangat menginginkanmu… tapi kini ku sadar ku diantara kalian…
Hahaa… Icon alay tahun ini!
lupakan aku kembali padanya… aku bukan siapa- siapa untukmu…
Hush! Gak usah nyanyi dech!
Tapi yah, balik ke pernyataan yang tadi, kalo aktornya okeh, alur pun tak penting lagih! Hihii… Gila neh sarap juga produsernyah. Sekali borong 4 aktor tampan yang lagi tenar! Ckck… saingan banget ama SCTV kali yah? Akh… penonton tak peduli… hihii…
Yuk mari kita cek satu per satu:
1. Richard Kevin
Wah… yang ini mah numero uno dah! Haha… (ya gak jeeenk?!) Tapi koq di sinetron ini rambutnya dibikin agak meng-alay yah? Sayang sekali…
2. Mike Lewis
Inget iklan POND’S-nya Mike Lewis? Yang dia bilang, “Hai! Ini Jo, temen SMP dulu.” Trus ceweknya (yang ceritanya gak pede karena jerawatan) jawab sambil pura-pura tak kenal, “Excusez-moi.” Nah! Dulu gara-gara saking nge-fansnya gw sama laki yang 1 ini, gw sampe bela-belain mo belajar bahasa prancis! Hahaa… Sumpah gak penting abiiiisss!!! Gak peduli dah tu gosip-gosip dia simpenan Tamara lah, inilah, itulah! Toh kalo ngeliat fisiknya kayak gitu, gw gak akan menyalahkan Tamara kalo sampe naksir sama doi! Hihihiii…
3. Rama Michael
Cowok indo yang 1 ini menurut gw mukanya manis banget. Huehehee…
4. Oka Antara
Cowok yang belom lama nikah ini menurut gw punya tampang tampan lokal alias khas Indonesia banget! Wohoo… Tapi kadang-kadang koq jadi mirip Bambang Pamungkas ya? Haha…
Oke. Sekian review (aktor) sinetron Yasmin dari gw. Gw gak mengharap lw pada terhibur koq! Haha… Yang penting saya senaaaaang!!
Ka De eR Te
KDRT.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Biasa banget kan lw denger singkatan ini… Biasa juga kan liat kasus-kasusnya di Buser, Sergap, Tangkap, Reportase, dan printilan-printilannya itulah… Biasa aja liat para aktivis perempuan gembar-gembor kampanye sana sini menentang dominasi laki-laki dalam bentuk kekerasan fisik terhadap istrinya…
Biasa…
Gw bilang biasa aja karena gw cuma pernah liat kasus-kasus itu di tipi, gw gak pernah liat sendiri, paling banter denger bisik tetangga sana sini: Denger-denger si Bu Anu dipukul sama suaminya, Bu Itu ditampar sama suaminya, bla…bla…bla…
Alhamdulillah keluarga gw sejahtera aja selama ini. Keluarga sodara-sodara gw juga biar melarat tapi masih cukup harmonis, gak pake maen tangan. Tetangga-tetangga yang gw tau juga gituh, religius punya.
Justru di hari lebaran tanggal 1 oktober kemaren, di hari orang-orang pada nangis-nangis minta maap atas kesalahannya, di hari orang-orang “mulai dari nol lagi”, di hari keluarga yang biasa bertikai jadi kumpul lagi, gw malah menyaksikan Ka De eR Te di depan mata gw sendiri. Bener-bener depan mata cuy! Secara cuma berjarak kurang dari 1 meter dari posisi gw. Koq bisa???
Ceritanya di sore hari menjelang magrib yang gerimis mengundang itu, gw sekeluarga niat mo silaturahmi ke rumah sodara di Cibubur, penasaran ama bayinya Tante Eka! Sampe di Hero Ciputat, bokap nyokap turun mo beli paket buah buat oleh-oleh. Berhubung gw ama ade gw gak ada kepentingan, kita lebih milih nunggu di mobil (karena mo konser bersama, hehee).
Gak lama bonyok pergi, di sebelah mobil gw, di tempat 1 unit motor diparkir, datenglah 1 keluarga kecil (yang harusnya bahagia) yang abis belanja. Secara gw lagi berkaraoke gila pake lagunya Jason Mraz, You and I Both, gw ampe gak nyadar kalo suami istri di sebelah mobil gw itu lagi ribut-ribut. Ade gw tuh yang nyadar, trus nyuruh gw matiin lagunya (huh!), trus… nonton “sinetron” dah!
Gw gak ngerti mereka ribut-ribut apa. Gak kedengeran juga gituh. Tapi tiba-tiba…
BRUUKK!!!
Suaminya enak aja gitu ngedorong istrinya ampe jatoh! BANGKE!
Mentang-mentang laki! Mentang-mentang badannya gede! Mentang-mentang istrinya kecil dan kayak gak punya tenaga! Enak aja tu si brengsek ngejorokin istrinya seenak jidat gak berotaknya! Huuhh… sebel akuh! Sebel!
Perlu dicatat ya sodara-sodara! Kondisinya waktu itu gerimis, bechuek (tapi banyak owjhek), dan istrinya yang kecil itu lagi gendong anaknya yang masih bayi! Ya elah… segede gitu mah setaun juga belom ada kali, kecuali anaknya kena malnutrisi. Gila yah tu suaminya! Anaknya juga langsung jerit-jerit histeris.
Istrinya langsung nangis… (yaiyyalah! masa ngajak maen tak jongkok???) Orang-orang pada ngeliatin dan jaga-jaga kalo ada kemungkinan terburuk: Istrinya berubah jadi Saras 008 dan suaminya berbalik dicakar abis! Hehee…
Akhirnya reda juga sih emosi tu laki. Gak lama mereka pulang naek motor dan ngelanjutin baku hantamnya di rumah. Semoga aja sih gak lah ya.
Huufh… Gokiiilll!!! KDRT di depan mata dan gw gak bisa ngapa-ngapain! Aku merasa tak berguna…
*berlebihan*
Abis kalo tiba-tiba turun dari mobil dan sok jadi pahlawan bisa jadi gw yang babak belur dan emosi lakinya kagak turun-turun. Berhubung (kayaknya) dia gak sadar ada orang dalem mobil, anggep aja gw gak mo ikut campur urusan rumah tangga orang…
*tsaahh…banyak bacot lo piiittt*
Kembalilah, wahai jiwa-jiwa yang tenang
Kayaknya bulan ini emang bulan duka cita buat gw sama orang-orang deket gw deh. At least ada 4 kabar duka yang gw terima akhir-akhir ini. Buat itu semua gw cuma bisa mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” dan mendoakan supaya almarhum dapat diterima dan bahagia di sisi-Nya. Amin.
Seperti yang udah gw posting di tulisan sebelumnya, beberapa hari sebelum masuk kuliah, nyokapnya Fany, sahabat gw dari SMP, meninggal karena sakit stroke yang uda lama dideritanya. Gw dikasih mimpi sama Allah, gambarin gimana perasaan Fany waktu ditinggal nyokapnya, and believe me, gw sampe nangis histeris di mimpi gw dan sampe kebangun pun muka gw masih basah sama air mata. Bener-bener pilu.
Tanggal 25 september, gw denger guru olahraga gw waktu SMP, Pak Saeful, juga meninggal karena sakit ginjal. Meskipun meninggalnya udah lama, tapi gw sama temen-temen baru tau hari itu. Sedih banget, soalnya gw cukup akrab sama bapak yang satu itu. Terakhir ketemu pas gw masih di IC, waktu itu gw lagi ikut tanding voli di Mauk dan beliau sama anak-anak SMA tempatnya ngajar juga ikutan.
Tanggal 27 september. Sena Medisisnata Hidayatullah udah sampe di ujung perjuangannya. Temen SMA gw yang satu ini emang udah mengidap kanker tulang yang ganas. Sedih banget pastilah! Tapi di balik rasa kehilangan itu, di balik tetesan air mata itu, ada setitik perasaan lega. Lega karena Sena udah terbebas dari rasa sakitnya. Lega karena Sena kembali pada-Nya di bulan Ramadhan yang suci. Lega denger wajah Sena yang tersenyum waktu wafatnya. Alhamdulillah.
2 Oktober. Jam 9.30 pm gw dapet jarkom angkatan: Bokapnya Celly, sahabat gw di farmasi UI, baru aja meninggal karena sakit. Duh, ini kabar yang bikin gw shock banget. Kata Dudu, meninggalnya jam setengah 7 malem tadi. Ya Allah, padahal baru sorenya gw SMSan lucu-lucuan ama Celly, ngebahas tugas makalah KimLing yang gak meaning, tiba-tiba gw denger kabar itu. Sesak dada gw. Gak kebayang perasaannya kayak apa. Gw cuma bisa SMS turut berduka cita, gak bisa ke sana, soalnya dia tinggalnya jauh di Lampung. Kata Dudu juga, bokapnya emang udah kena diabet. Tapi ini bener-bener di luar dugaan, bener-bener gak disangka bokapnya pergi sekarang.
Yah, manusia emang gak akan pernah tau kapan dipanggil oleh sang Khalik: hari ini, besok, bulan depan, tahun depan, atau bisa juga 5 menit setelah lw selesai baca tulisan ini. Cuma Allah yang ngerti. Cuma Allah yang tau. Kita cuma bisa berdoa supaya gak dipanggil dalam keadaan bersimbah dosa dan bisa kembali pada-Nya secara khusnul khatimah. Amin ya robbal alamin.








