Objective Journalism

Perang yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina, memang memilukan. Pasukan Israel yang mengklaim hanya menargetkan para militan HAMAS nyatanya sampai hari ini menyebabkan terbunuhnya lebih dari 330 anak-anak Palestina. Sekolah yang dikontrol PBB, mesjid, sarana olahraga, bahkan kompleks kuburan juga tidak luput dari serangan jet-jet tempur Israel.

Bagi para wartawan, konflik Israel-HAMAS ini memang menjadi sumber berita yang tidak ada habis-habisnya. Mereka pun berlomba-lomba menyajikan berita-berita terbaru seputar perang yang sedang berlangsung. Sayangnya, hanya sedikit wartawan, terutama dari media internasional, yang memiliki kesempatan meliput langsung dari wilayah konflik, karena blokade israel yang melarang masuknya para wartawan asing, termasuk wartawan media Israel sendiri.

Al Jazeera, jaringan media yang berbasis di Qatar ini merupakan salah satu jaringan media yang memiliki kesempatan langka meliput langsung dari Jalur Gaza. Selama peperangan ini pula popularitas mereka meningkat tajam di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat yang melarang saluran TV ini ada dalam daftar saluran TV kabel di seluruh penjuru negeri.

Al Jazeera dinilai banyak pihak, termasuk pakar media barat dan Israel sendiri, menyajikan berita yang sangat berani, objektif, dan tidak ditutup-tutupi. Ketika media Amerika dan Eropa dituding tidak memberitakan kebenaran yang sebenarnya terjadi di lapangan, ditambah lagi larangan peliputan oleh Israel, serta tuduhan terhadap beberapa media besar yang dikuasai kaum Yahudi memutarbalikkan fakta, Al Jazeera membuktikan bahwa mereka dapat memberikan apa yang disebut “balanced-coverage“.

Sejak perang di Gaza pecah pada tanggal 27 Desember 2008 lalu, saya mengikuti seluruh berita yang disiarkan oleh Al Jazeera International, atau yang dikenal juga dengan Al Jazeera English (AJE). Melalui dua korespondennya dari Gaza, Ayman Mohyeldin dan Sherine Tadros, AJE memberitakan apa yang mungkin tidak diinginkan Israel untuk diketahui masyarakat dunia.

Al Jazeera English

Al Jazeera English

Hampir tiga minggu ini saya hanya menyaksikan AJE agar selalu update tentang kabar terbaru dari Gaza. Bisa dibilang, saya sudah “terbiasa” mendengar liputan langsung dari para korespondennya yang dapat memberikan laporan dengan tenang walaupun berada dalam tekanan dan ketakutan terhadap bom yang dapat dijatuhkan dimana pun dan kapan pun. Bahkan, ketika protes massal yang dilakukan di seluruh dunia menyebut serangan Israel di Gaza tak ubahnya upaya genosida, praktek apartheid, atau “Holocaust”, mereka tidak pernah benar-benar menggunakan istilah-istilah tersebut, karena belum terbukti sah secara hukum internasional.

Kebetulan kemarin saya sempat menonton siaran berita mengenai kabar dari Gaza di SCTV. Rupanya reporter SCTV sudah mendapat kesempatan meliput dari perbatasan Mesir-Gaza sehingga dapat melihat langsung bom-bom yang dijatuhkan tentara Israel di kota Gaza. Dengan segala hormat, saya harus mengatakan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh reporter SCTV itu berlebihan, terlalu excited, seperti halnya para komentator sepakbola. Nada bicaranya tinggi ketika melihat sebuah bom dijatuhkan sembari mengatakan, “…entah berapa lama lagi agresi militer Israel ini akan berlangsung…”

Mungkin bukan SCTV saja, bisa jadi media-media massa di Indonesia, baik media cetak dan elektronik,  juga sering menggunakan penggambaran yang bersifat terlalu subjektif, tentu saja untuk mengutuk agresi militer Israel di tanah Palestina. Beberapa kali saya juga menyaksikan saluran TV One yang me-relay saluran Al Jazeera Arabic. Dengan mengundang seorang penerjemah sekaligus narasumber, tak jarang kata-kata seperti “Kebiadaban Israel”, “Zionis Israel”, atau “Israel memang berniat menyerang rakyat sipil” meluncur, baik dari mulut sang penerjemah maupun para presenter beritanya.

Indonesia memang negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia memang memiliki ikatan yang kuat dengan Palestina. Indonesia memang selalu mendukung rakyat Palestina dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, dalam hal menyampaikan berita yang jujur dan tidak bias, menggunakan deskripsi berlebihan sangat tidak baik diterapkan.

Serangan Israel di Jalur Gaza

Serangan Israel di Jalur Gaza

Mungkin para jurnalis kita dapat belajar dari para kru Al Jazeera. Meskipun berbasis di kawasan timur tengah yang penduduknya mayoritas muslim, meskipun mereka meliput langsung dari jantung kota Gaza, mereka tetap dapat menunjukkan profesionalisme dalam porsi pemberitaannya. Dengan memiliki koresponden, baik di Gaza maupun Sderot (wilayah selatan Israel yang sering menjadi sasaran roket HAMAS), mereka berusaha menayangkan liputan yang objektif dari kedua belah pihak. Tak jarang pula mereka mengundang jubir perdana menteri Israel, Mark Regev, dan jubir militer Israel, Avital Leibovich, untuk membahas perkembangan perang yang terjadi.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, kedua orang reporter AJE di Gaza ini memang layak diacungi jempol. Sikap mereka yang tenang dan tidak berapi-api dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pembaca berita di studio, melihat kenyataan pesawat dan helikopter Israel terbang di atas kepala dan menjatuhkan bom di kejauhan, benar-benar menunjukkan bagaimana seharusnya jurnalisme yang profesional diterapkan.

Bukan maksud saya untuk menghalangi kebebasan berpendapat apalagi sampai mendukung agresi Israel, hanya saja dalam penyampaian berita apa pun, meski telah jelas terlihat kejahatan di depan mata, para jurnalis sebaiknya menyampaikan hal yang terjadi apa adanya dan menghindari adanya provokasi untuk mendukung atau membenci salah satu pihak. Biarkan pemirsa yang menilai melalui sudut pandangnya masing-masing.

Saya memang bukan pakar media massa, apalagi pernah mengeyam pendidikan di bidang jurnalistik. Saya hanya seorang anggota masyarakat yang berpendapat bahwa sebaiknya media massa tidak berusaha membentuk opini publik melalui sudut pandangnya karena kurang relevan dengan kebebasan berpikir dan mengekspresikan opini yang dilindungi di negara ini.

2 thoughts on “Objective Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s