Random Health Facts #2

Makanlah Kacang Almond Sebelum Kena Diabetes

Penggemar almond kini bisa mendapatkan manfaat ganda dari jenis kacang-kacangan tersebut. Makan kacang almond bisa meningkatkan sensitivitas insulin pada pengidap pre-diabetes sehingga terjauh dari diabetes.

Pre-diabetes merupakan kondisi meningkatnya kadar gula darah di atas normal, namun belum terlalu tinggi untuk disebut diabetes. Karena dipicu oleh obesitas dan gaya hidup yang tidak sehat, kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes tipe-2.

Peningkatan kadar gula terjadi karena sensitivitas insulin berkurang, sehingga gula tidak banyak dimetabolisme menjadi energi. Akibatnya terjadi penumpukan gula di darah yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital seperti hati.

Ketika hati yang merupakan organ penting dalam sistem metabolisme sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, secara keseluruhan metabolisme akan terganggu. Peningkatan tidak hanya terjadi pada kadar gula, melainkan juga kolesterol dan asam urat.

Jika kolesterol khususnya kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) meningkat, risikonya adalah gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Dampak paling berbahaya adalah stroke dan serangan jantung.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Medicine and Dentistry di New Jersey mengungkap diet kacang almond bisa mengatasi gejala awal peningkatan kadar gula darah. Tingkat kesembuhannya cukup tinggi, berkisar antara 90-95 persen.

Penelitian yang baru-baru ini dimuat dalam Journal of the American College of Nutrition tersebut melibatkan 65 orang pasien pre-diabetes. Partisipan dibagi 2 kelompok, sebagian mendapat almond setiap hari dan sebagian lagi tidak.  Konsumsi almond juga menyebabkan kadar LDL berkurang cukup signifikan pada kondisi hiperkolesterolemia.

===============

Rajin Jogging Bikin Orang Makin Pintar

Beberapa penelitian modern telah mengkategorikan jogging sebagai olahraga yang cocok dilakukan untuk semua kelompok usia, karena tidak memerlukan peralatan dan persyaratan khusus untuk melakukannya.

Tak hanya itu, penelitian juga menemukan bahwa jogging yang dilakukan secara rutin dan konsisten dapat pula menjadi latihan otak yang dapat meningkatkan kemampuan intelektualitas.

“Jogging tidak hanya bermanfaat untuk otot tetapi juga otak Anda,” jelas Dr Kisou Kubota, pemimpin studi dari Nihon Fukushi University di Handa, Jepang, seperti dilansir Preventdisease.

Menurut Dr Kubota, hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin melakukan jogging dapat mengalami perbaikan memori, kemampuan mental serta fungsi kognitif yang signifikan. Olahraga ini juga dapat membantu memerangui depresi.

Dalam penelitian ini, tim Dr Kubota mempelajari tujuh orang muda yang sehat dengan memulai jogging selama 30 menit, 2 sampai 3 kali seminggu paling sedikit selama 12 minggu.

Setiap partisipan juga menjalani serangkaian tes berbasis komputer yang kompleks, untuk membandingkan kemampuan memori sebelum dan sesudah program jogging dilakukan.

Hasilnya, setelah 12 minggu melakukan jogging, nilai tes secara signifikan meningkat. Ini menunjukkan bahwa jogging tidak hanya memberikan manfaat kesehatan pada tubuh, tetapi juga pada otak. Alasan bagaimana olahraga ini bisa memperkuat ketajaman mental belum jelas, tetapi penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa jogging bisa mempertahankan aliran darah yang sehat dan oksigen yang dapat melindungi otak.

===============

Beri Bayi Antibiotik Bisa Tingkatkan Risiko Asma

Antibiotik adalah obat untuk memerangi penyakit akibat bakteri. Tapi sebaiknya jangan beri antibiotik pada bayi yang berusia kurang dari 6 bulan, karena bisa meningkatkan risiko bayi terserang asma.

Hal tersebut berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh tim ahli dari Yale University. Hasil studi tersebut adalah yang terbaru dalam serangkaian studi yang menghubungkan obat yang biasa digunakan dengan asma pada anak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberian antibiotik pada bayi berusia kurang dari enam bulan dapat meningkatkan risiko bayi terserang asma hingga lebih dari dua pertiga persen lebih tinggi.

Tim peneliti dari Yale mempelajari 1.400 anak untuk melihat apakah penggunaan antibiotik dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada anak usia enam tahun.

Partisipan tersebut diketahui diberikan resep obat antibiotik pada saat bayi sebelum usia enam bulan karena infeksi selain yang terkait dengan masalah dada. Partisipan juga termasuk anak-anak yang lahir dari orangtua yang tidak memiliki riwayat keluarga mengidap asma.

Hasilnya yang akan diterbitkan pada American Journal of Epidemiology, menunjukkan adanya peningkatan risiko asma, bahkan jika anak-anak tidak pernah mengalami infeksi dada dan tidak berasal dari keluarga penderita asma.

Peneliti mengatakan obat antibiotik yang diberikan terlalu dini dapat mengganggu keseimbangan mikroba pelindung dalam usus bayi yang membantu untuk menangkal penyakit pada tahap awal kehidupan.

“Paparan mikroba dini, terutama di saluran usus, tampaknya diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh yang matang dan seimbang pada masa kanak-kanak. Penggunaan antibiotik, khususnya antibiotik spektrum luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan respon alergi menjadi rendah,” jelas Dr Kari Risnes, pemimpin studi, dilansir Telegraph, Sabtu (8/1/2011).

===============

Ref: Sumber 1 | Sumber 2 | Sumber 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s