Cancer-related info

Wajah Memerah Saat Minum Alkohol Mudah Kena Kanker

Sebagian besar orang dari etnis Asia punya ciri khas wajahnya memerah saat minum alkohol, persis seperti orang yang sedang tersipu malu. Gejala ini menunjukkan adanya risiko kanker esofagus, sehingga disarankan untuk membatasi konsumsi alkohol.

Wajah yang memerah itu disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah, yang berhubungan dengan penumpukan senyawa beracun yakni asetaldehid. Senyawa ini merupakan hasil metabolisme alkohol, sebelum diolah kembali menjadi senyawa yang lebih aman yakni asetat untuk dikeluarkan dari tubuh.

Gejala ini dialami oleh hampir sepertiga penduduk di Asia, terutama dari etnis tertentu di wilayah Jepang, China, dan Korea. Secara genetik, etnis-etnis tersebut memiliki defisiensi atau kekurangan enzim ALHD2 yang berfungsi memetabolisme asetaldehid menjadi asetat.

Karena sulit dimetabolisme menjadi asetat, asetaldehid akan menumpuk di darah dan menyebabkan wajah berwarna kemerahan. Lebih parahnya, asetaldehid merupakan salah satu karsinogen atau senyawa berbahaya yang dapat menyebabkan kanker.

Peningkatan risiko kanker esofagus akibat adanya kelainan genetik ini cukup besar. Hanya dengan mengonsumsi 2 gelas bir setiap hari, risikonya bisa meningkat 10 kali lipat dibanding orang normal.

===============

Rajin Minum Susu Kurangi Risiko Kanker Usus

Penelitian membuktikan orang-orang yang rajin minum susu sejak masa kanak-kanak punya risiko lebih kecil untuk kena kanker usus. Kandungan mineral dalam susu yang disebut-sebut mampu mengurangi risiko kanker usus adalah kalsium.

Pada orang dewasa, suplemen kalsium telah terbukti mampu menghambat pertumbuhan adenoma atau sejenis tumor ganas yang biasa menyerang usus besar atau kolon.

Laporan yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology tesebut memaparkan hasil penelitian 2 ahli dari Otago University, Prof Brian Cox dan Dr Mary Jane Sneyd. Penelitian membuktikan bahwa kalsium juga bermanfaat bagi anak-anak di usia pertumbuhan, untuk mengurangi risiko kanker kolon.

Tak kurang dari 1.000 orang dewasa di Selandia Baru dilibatkan dalam penelitian yang diklaim sama sekali tidak didanai oleh pabrik susu. Para partisipan adalah orang dewasa yang pada masa kecilnya sempat mengalami program pembagian susu gratis dari pemerintah setempat untuk anak-anak sekolah antara tahun 1937-1967. Susu gratis itu dibagikan setiap hari, masing-masing dikemas dalam botol berukuran 284 mL.

Meski tidak perlu membayar karena didanai oleh pemerintah, pada masa itu tidak semua partisipan berkesempatan mendapatkan susu gratisan. Selain karena distribusi yang tidak merata, beberapa mengaku memang tidak senang minum susu.

Hasil penelitian itu menunjukkan, partisipan yang dulunya rajin mengonsumsi susu gratisan lebih jarang terkena kanker usus ketika dewasa. Dibandingkan dengan risiko kanker usus pada partisipan yang mengaku tidak doyan susu, perbedaannya cukup bermakna yakni sekitar 30-38 persen lebih rendah.

===============

sumber: ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s